Minggu, 27 Maret 2011

Anda Psikopat ???

oleh: Mohamad Yunus

Bila kata psikopat disebut, pikiran mungkin langsung melayang pada Sosok rian, pembunuh berantai sosok “sempurna” dan ‘normal” yang jauh lebih jahat dari penampilannya. Seperti Ryan, seorang psikopat memang kerap menipu lewat penampilan.seorang psikopat profesional di bidangnya. Ada yang pejabat, dokter, pimpinan perusahaan, karyawan, psikiater, psikolog, penegak hukum, wartawan, pemuka agama, politikus, penggiat LSM, pendidik/pengajar/trainer, ibu rumah tangga. Tak ketinggalan, mereka juga punya banyak julukan. Mulai dari yang keren sampai menyeramkan, seperti a white collar crime, the best actor, atau “serigala berbulu domba”.

Dalam kasus kriminal, psikopat dikenali sebagai pembunuh, pemerkosa, dan koruptor. Namun, ini hanyalah 15-20 persen dari total psikopat. Selebihnya adalah pribadi yang berpenampilan sempurna, pandai bertutur kata, mempesona, mempunyai daya tarik luar biasa dan menyenangka
Psikopat secara harfiah berarti sakit jiwa. Pengidapnya juga sering disebut sebagai Sosiopat karena prilakunya yang antisosial dan merugikan orang-orang terdekatnya. Psikopat adalah bentuk kekacauan mental ditandai tidak adanya integrasi pribadi; orangnya tidak pernah bisa bertanggung jawab secara moral, selalu konflik dengan norma sosial dan hukum (karena sepanjang hayatnya dia hidup dalam lingkungan sosial yang abnormal dan immoral)

Psikopat berasal dari kata psyche yang berarti jiwa dan pathos yang berarti penyakit. Psikopat tak sama dengan gila (skizofrenia/ psikosis) karena seorang psikopat sadar sepenuhnya atas perbuatannya. Gejalanya sendiri sering disebut dengan psikopati, pengidapnya seringkali disebut “orang gila tanpa gangguan mental”. Menurut penelitian sekitar 1% dari total populasi dunia mengidap psikopati. Pengidap ini sulit dideteksi karena sebanyak 80% lebih banyak yang berkeliaran daripada yang mendekam di penjara atau dirumah sakit jiwa, pengidapnya juga sukar disembuhkan

[1].adakah cara mengenali para psikopat yang berkeliaran itu? Secara klinis, jelas tak mudah, karena untuk sampai pada kesimpulan seseorang tergolong
psikopat atau bukan. “Harus melalui proses panjang dan sulit. Diagnostik sahih mesti disimpulkan setelah usia orang yang dicurigai lebih dari 18 tahun,” papar dr. Suryantha
Chandra, Sp.KJ, kepala Sanatorium Dharmawangsa, Jakarta.

Sampai saat ini, pasien yang ditangani Sanatorium Dharmawangsa, yang akhirnya disimpulkan sebagai psikopat, rata-rata berusia antara 25 – 35 tahun. Sebuah rentang usia produktif. Sedangkan jumlahnya kurang dari 10% dari seluruh pasien yang datang. Psikopat berbeda dengan orang normal dan berbeda dari pelaku kriminal yang ‘normal’. Tidak hanya berbeda karena tindakannya tetapi berbeda secara
emosi, motivasi, dan proses berpikir. Pertama, perilaku mereka bukan sekedar perilaku impulsif, tetapi hampir tanpa motivasi atau dimotivasi oleh tujuan yang tidak dimengerti. Kedua, psikopat mempunyai emosi yang dangkal.

Pada dasarnya, psikopat adalah sebutan singkat untuk gangguan kejiwaan, yang awalnya dikenali sebagai kenakalan remaja dan gangguan kepribadian antisosial (emosi dangkal, gampang meledak-ledak, tak bertanggungjawab, berpusat pada diri sendiri, serta kekurangan empati dan rasa sesal). Bila anda atau orang terdekat anda sedikitnya melakukan tiga dari tujuh ciri khas berikut ini:

(1) gagal mengikuti norma sosial dan hukum, hingga berkali-kali ditahan pihak berwajib,
(2) berulang-ulang berbohong, menggunakan berbagai alasan, lihai bicara, menipu untuk keuntungan pribadi atau sekadar bersenang-senang, suka bersikap baik dan manis di depan orang lain tetap menusuk di belakang.
(3) meledak-ledak dan tak punya perencanaan, kalau ingin sesuatu, harus saat itu juga dilakukan,
(4) mudah tersinggung dan berangasan, sehingga sering terlibat penyerangan atau adu jotos,
(5) tak peduli keselamatan diri sendiri atau orang lain,
(6) tak bertanggungjawab, misalnya kerja sering tak beres dan ngemplang utang,
(7) nyaris tak punya rasa sesal dan bersalah setelah menyakiti, menganiaya bahkan mencuri. anda harus waspada karena ini merupakan gejala anda atau orang terdekat anda terkena psikopat.

Psikopat berbeda dengan orang normal dan berbeda dari pelaku kriminal yang‘normal’. Tidak hanya berbeda karena tindakannya tetapi berbeda secara emosi, motivasi, dan proses berpikir. Pertama, perilaku mereka bukan sekedar perilaku impulsif, tetapi hampir tanpa motivasi atau dimotivasi oleh tujuan yang tidak dimengerti. Kedua, psikopat mempunyai emosi yang dangkal. Psikopat biasanya memiliki IQ yang tinggi.

Mereka kekurangan cinta, kesetiaan, kekurangan empati, dan rasa tidak bersalah. mereka tidak bisa melakukan penilaian dan tidak bisa belajar dari kesalahan dalam pengalaman hidup. Psikopat tidak memikirkan konsekuensi dari perilakunya. Misalnya orang normal, ketika mendapat hukuman dari tindakannya, akan berhenti untuk melakukan tindakan tersebut atau akan mengulangnya tapi dalam cara agar tidak ketahuan oleh orang lain. Sedangkan orang psikopat, akan terus mengulang lagi dan lagi, dengan cara yang sama, meskipun mereka telah dihukum karena melakukan tindakan itu. Jadi, mungkin jika Ryan atau siapapun adalah seorang psikopat, penjara tidak akan membuatnya jera (tapi sepertinya kemungkinan dieksekusi lebih besar dibandingkan ia dipenjara 20 tahun) Terakhir, para psikopat terlihat
meyakinkan dari luar. Maksudnya, karena mereka tidak memiliki perasaan cemas dan perasaan bersalah, mereka bisa berbohong, mencuri, berbuat curang, dan lainnya. Ini mendukung pernyataan seorang psikolog yang pernah diwawancara (itu lho psikolog yang duduk di kursi roda) bahwa Ryan membunuh karena dia cemburu dengan pasangan homoseksualnya itu bohong besar. Itu hanya alibi untuk menutupi perilakunya atau trigger dari perilakunya. Dan jangan percaya dengan tampilan kalem dan lemah lembutnya karena orang psikopat mampu mengontrol sikapnya.

Psikopat percaya bahwa seluruh dunia melawannya. Ada juga pembunuh psikopat yang membunuh korbannya bukan untuk memuaskan keinginannya membunuh, tapi mereka membutuhkan seorang teman. Seperti Dennis Nilsen – pelaku psikopat - yang berkata bahwa ia merasa nyaman tinggal dengan mayat daripada hidup dengan orang lain karena mayat tidak akan mengacuhkannya. Ini menjelaskan kalau ia merasa kesepian dan mengalami isolasi sosial sebagai hal yang sangat menyakitkan, namun diekspresikan dengan kekerasan.

Psikopat tidak hanya ada di penjara, di ruang sidang pengadilan, atau pada kisah “pembunuhan” , Penelitian menyatakan bahwa satu persen populasi orang dewasa yang bekerja adalah psikopat di tempat kerjanya. lewat berbohong, mencurangi, mencuri, mememanipulasi, mengorbankan dan menghancurkan para rekan kerja, serta kesemuanya tanpa rasa salah maupun penyesalan. Mereka yang disebut organisasional psikopat, berkembang pesat di dunia bisnis, di mana kezaliman dan nafsu mereka tidak saja mereka salah-artikan sebagai ambisi dan keterampilan memimpin, namun juga sebagai sesuatu yang dihargai melalui promosi, bonus dan kenaikan upah.

“psikopat di tempat kerja berpikir layaknya psikopat kriminal. Mereka berusaha sekeras-kerasnya demi mereka sendiri. Perbedaan keduanya adalah, psikopat kriminal menghancurkan korban secara fisik, sedangkan psikopat tempat kerja menghancurkan korbannya secara psikologis,” Mereka tidak peduli. Mereka tidak berpikir dirinya adalah psikopat. Mereka tidak berpikir apa yang sedang dilakukan adalah salah. Mereka hanya berpikir dirinya pintar, dan jika semua orang secerdas mereka, semuanya pun akan melakukanhal serupa,” katanya.

Penanganan dan pengobatan penyandang psikopat minimal memakan waktu tiga tahun. Sanatorium Dharmawangsa menegaskan, pengobatan pasien dengan gangguan jiwa ini tak ada penyelesaiannya. Artinya, penanganan dan pengobatan harus dilakukan terus-menerus, dengan kerja sama banyak pihak, karena masalahnya tak selalu mudah.
Sistem pendidikan yang hanya mengejar prestasi, juga bisa memicu tumbuhnya pribadi psikopat. Bila tiap anak dituntut menjadi nomor satu, sementara ia sadar kemampuannya terbatas, apa yang terpikir olehnya untuk mencapai tujuan itu? Bisa saja dia mencari jalan pintas, dan hal ini dapat mengundang anak menjadi seornag yang psikopat.
Memang, gelar psikopat kadang nemplok tanpa pilih tempat. Apalagi sering tanpa sadar masyarakat modern sendiri ikut andil melahirkan psikopat. Karena beratnya tekanan hidup, berbagai hal yang menyimpang dari norma dan hukum, justru menjadi aktivitas “sehari-hari” . Jadi apakah anda psikopat… Saya berharap bukan ya… coba instropeksi diri deh . (dari berbagai sumber)
Semoga bermanfaat.

Kamis, 27 Januari 2011

Thomas Alva Edison, Sang Idiot yang Genius

Thomas Alva Edison, seorang penemu terbesar di dunia yang menemukan sekitar 3000 penemuan dan 1.093 diantaranya telah dipatenkan.
Edison dilahirkan pada tanggal 11 Februari 1847 di Milan, Ohio, Amerika Serikat dari pasangan suami-Istri Samuel Ogden seorang tukang kayu dan Nancy Elliot seorang guru. Keduanya merupakan keturunan Belanda.
Pada usia 7 tahun, edison kecil pindah ke kota Port Huron, Michigan dan bersekolah di Port Huron. Namun tidak lama, 3 bulan kemudian ia dikeluarkan dari Sekolah karena menurut gurunya “Dia terlalu bodoh” sehingga tidak mampu menerima pelajaran apa pun, dia pun sering dipanggil idiot oleh gurunya.

Sang ibu, Nancy Elliot memutuskan untuk berhenti sebagai guru dan kemudian berkonsentrasi mengajari Edison baca tulis dan hitung menghitung.
“My mother was the making of me. She was so true, so sure of me; and I felt I had something to live for, someone I must not disappoint.”
Begitulah perkataan Edison kecil yang menunjukkan motivasi dalam diri Edison yang cukup kuat dalam belajar. Setelah dia bisa membaca, Edison jadi gemar membaca, ia membaca apa saja yang dapat dijumpainya ia membaca ensiklopedia, Sejarah Inggris, Kamus IPA karangan Ure, Principia karangan Newton dan juga Ilmu Kimia karangan Richard G. Parker. Kegemarannya yang menonjol adalah membaca, berpikir dan bereksperimen.
Pada umur 12 Tahun Edison menjadi penjual koran, permen, kacang dan kue di kereta api, sama seperti penjual asongan yang sering kita temui di kereta api ekonomi di Indonesia. Keuntungan dari berdagang itu sebagiannya dia berikan kepada orang tuanya dan sebagiannya dia simpan sebagai modal. Nah… Di dalam kereta api, ia menerbitkan koran Weekly Herald sambil mengadakan eksperimen di salah satu gerbong kereta api, setelah sebelumnya meinta ijin perusahaan kereta api “Grand Trunk Railway”.
Pada suatu malam Edison tidak sengaja menumpahkan sebuah cairan kimia sehingga menyebabkan sebuah gerbong hampir terbakar. Karena kasus ini Edison ditampar kondektur hingga pendengarannya rusak, kemudian dia dilarang bekerja di kereta api.
Namun Edison tidak menganggap pendengarannya yang rusak sebagai cacat, namun justru dia menganggapnya secara positif sebagai sebuah keuntungan sehingga ia memiliki lebih banyak waktu untuk berfikir daripada mendengarkan omongan–omongan kosong.
Pada usia 15 tahun Edison remaja menyelamatkan nyawa anak kepala stasiun yang hampir tergilas gerbong kereta api. Karena merasa berhutang jasa, sang kepala stasiun tersebut akhirnya mengajarkan cara pengiriman telegram, Edison hanya memerlukan waktu 3 bulan untuk menguasai pelajaran gratis tersebut. Sesudah itu, ia mendapat pekerjaan sebagai operator telegraf.
Penemuan pertama yang dia patenkan adalah electric vote recorder, namun karena tidak laku, Edison akhirnya beralih ke penemuan yang lebih komersial. Edison kemudian membuat suatu alat yang kemudian ia beri nama stock ticker atau mesin telegraf. Peralatan itu dijualnya dan laku 40.000 dollar Amerika serikat (Sekitar 390 juta rupiah). Edison hampir pingsan melihat uang sebanyak itu. Uang ini dipakai Edison untuk mendirikan pabrik di Newark dan merekrut 300 orang pekerja sekaligus, disini ia mengembangkan telegraf sehingga mampu mengirimkan 4 berita sekaligus.
Pada umur 29 tahun, Edison mendirikan laboratorium riset untuk industri di Menlo Park, New Jersey. dan dalam 13 bulan ia menemukan 400 macam penemuan yang kemudian mengubah pola hidup sebagian besar orang-orang di dunia.
Tahun 1877 ia berkonsentrasi pada lampu pijar. Edison sadar bahwa betapa pentingnya sumber cahaya ini bagi manusia. Dia menghabiskan 40.000 dollar dalam kurun waktu dua tahun untuk eksperimen lampu pijar. Yang menjadi masalah adalah menemukan bahan yg bisa berpijar ketika dialiri arus listrik namun tidak terbakar. Total ada sekitar 6000 bahan yang dicobanya.
Melalui usaha keras Edison, akhirnya pada tanggal 21 Oktober 1879 lahirlah lampu pijar listrik pertama yang mampu menyala selama 40 jam. Tahun 1882, untuk pertama kalinya dalam sejarah lampu-lampu listrik di pasang di jalan-jalan dan di rumah rumah
Sungguh patut direnungkan ketika saat keberhasilan dicapainya, dia sempat ditanya: Apa kunci kesuksesannya. Thomas Alfa Edison menjawab:
“Saya sukses, karena saya telah kehabisan apa yang disebut dengan kegagalan”
Bahkan saat dia ditanya apakah dia tidak bosan dengan kegagalannya, Thomas Alfa Edison menjawab:
“Dengan kegagalan tersebut, Saya malah mengetahui ribuan cara agar lampu tidak menyala”
This Amazing!! Edison memandang sebuah kegagalan sebagai sebuah hal yang sangat positif. Kegagalan bukan kekalahan tapi sebagai sebuah keuntungan. Cara memandang yang positif ini membuat Edison mampu meyakinkan orang lain untuk tetap mendanai proyeknya meskipun gagal berulang–ulang kali.
Mungkin prinsip Edison inilah yang patut kita terapkan dalam kehidupan kita sehari. Bahwa sebenarnya kita tidak pernah mengalami kerugian dan sesungguhnya kerugian itu bermula dari sikap dan cara pandang kita sendiri yang negatif.
Edison telah banyak menghasilkan berbagai penemuan yang sangat berharga bagi perkembangan umat manusia. Telegraf cetak, pulpen elektrik, proses penambangan magnetik, torpedo listrik, karet sintetis, baterai alkaline, pengaduk semen, mikrofon, transmiter telepon karbon dan proyektor gambar bergerak adalah beberapa dari penemuan Edison.
Melewati tahun 1920-an kondisi kesehatannya kian memburuk dan Edison meninggal dunia tanggal 18 Oktober 1931 pada usia 84 tahun.

Sabtu, 18 Desember 2010

NEW YEAR NEW YOU?

Teach us to use wisely all the time we have
- King David

Tahun baru, harapan baru, komitmen baru! Malam pergantian tahun senantiasa bertaburan berbagai resolusi serta impian-impian akan tahun mendatang yang lebih baik. Suasana hiruk-pikuk penuh kemeriahan kerap kali menambah semarak dan pesona malam tahun baru yang oleh sebagian orang dianggap bisa menjadi titik balik atau momentum untuk mewujudkan hari esok yang lebih baik. Benarkah begitu?

Sayangnya fakta yang ada seringkali mengungkapkan sebaliknya. Buktinya, baru beberapa hari atau minggu berlalu, orang telah melupakan semuanya itu. Janji-janji atau komitmen di malam pergantian tahun kemudian hilang menjadi kumpulan kisah tak berbekas. Yang mau diet kembali tidak menjaga pola makan. Yang ingin menjadi profesional handal kembali malas-malasan dan bekerja dengan pola lama. Yang menulis buku tidak juga mulai menulis. Yang akan terjun menjadi entrepreneur tetap saja tidak berani melangkah.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Pertama, berbagai harapan, komitmen maupun impian yang dilontarkan di malam pergantian tahun biasanya bukan sungguh berasal dari hati yang paling dalam. Bisa jadi itu hanyalah sebatas angan-angan. Misalnya ketika melihat teman A pengen ini-itu di tahun mendatang, kita kemudian merasa “tertodong” atau setidaknya biar kelihatan keren, kita pun ikut melontarkan angan-angan kita.

Kedua, bisa jadi angan-angan tersebut memang lahir dari hati yang paling dalam sehingga telah menjadi visi bagi hidup kita. Visi adalah gambaran mengenai masa depan yang lebih baik yang membangkitan gairah atau semangat dalam diri seseorang. Sayangnya ketika visi itu muncul, tidak dibarengi dengan perencanaan yang matang sehingga visi itu pun layu sebelum berkembang.

Momentum Pergantian Tahun

Sungguh, momen pergantian tahun ini (Masehi & Hijriyah) sebenarnya bisa kita gunakan sebagai momentum menuju tahun baru yang lebih baik. Sehingga kita bisa berkata, new year new me, new year new you! Bagaimana caranya?

Pertama, beberapa hari menjelang akhir tahun, sediakan waktu yang cukup untuk melakukan refleksi penuh kesungguhan. Bisa dimulai dengan doa. Mensyukuri apa yang telah kita alami, dapatkan bahkan yang tidak kita dapatkan di tahun yang akan segera berlalu ini. Jangan tenggelam dalam rasa penyesalan berkepanjangan jika ada hal-hal yang masih mengganjal. Tidak seorang manusia pun yang mampu kembali ke masa lalu. Masa lalu telah menjadi bagian sejarah hidup kita.

Evaluasilah perjalanan hidup kita. Pelajaran-pelajaran penting apa saja yang telah kita petik sepanjang tahun ini? Dalam hal apa kita telah bertumbuh menjadi lebih baik dan dalam hal apa saja kita ingin lebih baik lagi di tahun mendatang? Terobosan-terobosan baru apa saja yang mau kita lakukan di tahun mendatang? Dari sinilah kita bisa membuat impian kita untuk tahun mendatang. Impian-impian tersebut kemudian perlu kita perjelas dan prioritaskan sehingga kita tahu mana yang akan terlebih dahulu kita kejar.

Kedua, diskusikan impian atau harapan-harapan kita itu dengan orang-orang terdekat kita. Misalnya, suami atau istri, anak-anak, orang tua, mentor, rekan kerja hingga sahabat-sahabat terdekat Anda. Mengapa diskusi ini perlu? Bisa jadi mereka akan menjadi bagian pendukung kita dalam mewujudkan impian tersebut. Bisa jadi, mereka jugalah yang akan merasakan dampak langsung dari terwujudnya impian kita itu. Jangan pernah lupakan fakta ini, rasa sayang kita kepada orang-orang terdekat (terutama keluarga) seringkali menjadi motivator paling hebat.

Ketiga, buat perencanaan alias susun strategi. Pertimbangkan harga yang harus kita bayar dan apakah kita bersedia membayar harga tersebut. Terkadang orang dengan begitu mudah berhenti di tengah jalan karena tidak lagi bersedia membayar harga yang ternyata lebih besar dari yang diprediksi sebelumnya.

Saya kerap menggunakan tabel seperti di bawah ini:


Tahun Impian Mengapa Impian Tersebut Penting Strategi Untuk Mencapai Impian
2011
1.
2.
3.
4.
5.

Keempat, berjuang dan berdoa. Meski semua rencana telah disusun, kita toh tidak boleh melupakan satu faktor kunci penting yaitu doa. Ya, berjuang tanpa berdoa terkadang akan sangat melelahkan. Dalam perjuangan itu, tentulah kita juga tidak boleh kaku. Fleksibilitas akan menjadi hal yang sangat esensial di tengah proses perubahan ke arah lebih baik. Kadang kala kita memang harus mengganti metode. Kadang kala justru kita harus membiarkan sebuah impian berhenti di tengah jalan demi mencapai hal lain yang barangkali lebih baik. Kadang kala kita harus menempuh jalan balik (u turn).

Pada akhirnya, kita harus sadar, hidup inilah adalah pilihan dan tiap pilihan memiliki konsekuensi sendiri. Bahkan tidak memilih pun memiliki konsekuensi.

Selamat bertumbuh dan menjadi pribadi yang lebih baik agar hidup Anda dan saya dapat berguna bagi lebih banyak orang. Amin!


Sumber: Paulus Winarto
Penulis buku motivasi, trainer dan dosen. Beralamat di www.pauluswinarto.com.

Senin, 01 November 2010

Informasi Mahasiswa: Slide MK Interview

Untuk materi mata kuliah interview bisa dicopy dari Diktat Ajar Interviu (wawancara) yang tersedia di Koperasi karyawan UMP atau hubungi dosen pengampu. Materi bab 1 - 7 merupakan materi teori dan konsep interviu efektif untuk ujian mid semester dan materi berikutnya merupakan penerapan dan pengayaan dari materi sebelumnya dengan spesifikasi materi sesuai bidang asesmen yang akan digarap.

Jangan lupa, selain tugas mata kuliah interview di bidang terapan asesmen yang telah ditentukan, mahasiswa juga wajib praktek simulasi wawancara dalam sesi konseling sesuai dengan ketentuan. Praktek dan tugas terstruktur dikoordinasikan dengan asisten praktikum, baik di mata kuliah interview maupun observasi.

Slide powerpoint mata kuliah interview sebagai berikut:
1. bab 1 klik di sini
2. bab 2 klik di sini
3. bab 3 klik di sini
4. bab 4 klik di sini
5. bab 5 klik di sini
6. bab 6 klik di sini
7. bab 7 klik di sini

Sebagai panduan dan penilaian praktek interview silahkan klik di sini

8. bab 8 klik di sini
9. bab 9 klik di sini
10. bab 10 klik di sini
11. bab 11 klik di sini
12. bab 12 klik di sini


Senin, 18 Oktober 2010

Info Mahasiswa: Slide MK Psi Industri & Organisasi

“the scientific study of the relation between man and the world at work; the study of the adjustment people make to the place they go, the people they meet and the things they do in the process of making a living” (Guion, in Muchinsky 1983)

“both the study of behavior in organizational and work settings and the application of the methods, facts, and princiiples of psychology to individuals and groups in organizational and work settings” (APA).

Those are two of definition of Organizational & Industrial Psychology (O/IP).
Lets study its by this slide and the handbook (diktat)

1. definition, concept, and history of O/IP, please click here and "the diktat"
2. individual difference and its measurement, please click here and here and "the diktat"
3. work motivation, please click here and "the diktat"
4. work satisfaction, please click here and "the diktat"
5. work stress, please click here and "the diktat"
6. job analysis, please click here and "the diktat"


7. recruitment and selection, the dictat please click here
8. compensation/salary, the dictat please click here
9. training, the dictat please click here
10. promotion & mutation, the dictat please click here
11. engineering psychology, the dictat please click here
12. consumer psychology, the dictat please click here

Rabu, 15 September 2010

Tertawa Itu Bisa Menular

Kamis, 16/09/2010 08:15 WIB
Vera Farah Bararah - detikHealth

London, Jika melihat orang tertawa atau membaca suatu cerita yang mendeskripsikan tentang tertawa, tanpa disadari seseorang akan ikut tersenyum atau tertawa. Jika menguap bisa menular, tertawa bisa menular.

Berdasarkan sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa tertawa memang benar-benar bisa menular. Otak akan merespons suara tawa dan menghubungkan otot-otot wajah sebagai persiapan untuk bergabung dengan ekspresi kegembiraan tersebut.

"Hasil ini menunjukkan bahwa hal tersebut adalah benar, yaitu tertawalah maka seluruh dunia akan ikut tertawa bersama dengan Anda," ujar Sophie Scott, seorang ilmuwan syaraf di University College London, seperti dikutip dari MSNBC, Kamis (16/9/2010).


Lebih lanjut Scott menuturkan sejak beberapa waktu lalu, peneliti telah mengetahui ketika seseorang berbicara dengan orang lain, maka hal tersebut sering menjadi cermin perilakunya.

Tanpa disadari seserang akan menyalin kata-kata yang didengar dan menirukan gerak tubuh orang lain. Sepertinya hal ini juga berlaku untuk kondisi tertawa, setidaknya pada tingkat otak.

Scott dan rekan-rekan peneliti melakukan analisa serangkaian suara terhadap partisipan dan mengukur respons di otaknya dengan fMRI scanner. Beberapa suara seperti tertawa atau teriak kemenangan termasuk dalam suara positif, sedangkan suara menjerit atau muntah-muntah termasuk dalam suara negatif.

Semua suara ini akan memicu respons di daerah premotor kortikal di otak yang menyiapkan otot di wajah untuk bergerak sesuai dengan suara yang didengar.

"Respons akan jauh lebih tinggi dan lebih menular terhadap suara positif daripada suara negatif. Hal inilah yang memaksa seseorang ikut tersenyum ketika melihat atau mendengar orang lain tertawa," ungkap Scott.

Scott menambahkan timnya juga menguji gerakan otot wajah saat suara dimainkan, yang hasilnya orang cenderung tersenyum ketika mendengar suara tawa. Tapi tidak membuat wajah ikut tersedak ketika mendengar suara muntah. Hal ini menunjukkan bahwa tubuh cenderung menghindari emosi dan suara negatif.

"Masyarakat biasanya menghadapi emosi positif seperti tertawa atau bersorak sorai dalam kondisi berkelompok, sehingga secara otomatis otak akan meresponsnya dengan ikut tertawa atau tersenyum. Hal ini juga sesuatu yang dapat membantu interaksi sosial dan membangun ikatan yang kuat antar individu," ungkapnya.

Beberapa ilmuwan berpikir nenek moyang manusia mungkin tertawa lebih dulu dalam kelompoknya sebelum bisa berbicara, sehingga kemungkinan tertawa merupakan pelopor dari bahasa.

sumber: http://health.detik.com/read/2010/09/16/081543/1441441/763/tertawa-itu-bisa-menular?l991101755

Senin, 05 Juli 2010

Info Mahasiswa: Slide MK PPSDM


Training is an activity planned by the companies / institutions to facilitate the learning process of employees to achieve competence in the job (Noe, 2002). The purpose of training is that employees can master the knowl ¬ knowledge, skills and behaviors that are drilled in the training program so that it can be applied in their daily activities ¬ day / current needs.

Development programs typically include elements of the planned lessons, experiences and often supported by coaching and counseling facilities (Armstrong 1992). According to Noe (2002), development, referring to formal education, work experience, interpersonal relationships and appraisal (assessment) of the personality and abilities that can help employees prepare themselves for the future.

Below is a slide course material HR Training & Development ...


session 1 : "concept of learning psychology" click here
session 2 : "HR training & development" click here
session 3 : "purpose & role of PPSDM" click here
session 4 : "qualification of trainer" click here
session 5 : "trainee" click here
session 6 : "training design" click here

session 7 : "training needs analysis" click here
session 8 : "methods of training" click here
session 9 : "session of training" click here
session 10 : "management of training class" click here
session 11 : "presenting skill" click here
session 12 : "training evaluation" click here